HOS Cokroaminoto: Raja Jawa tanpa Mahkota

Di paruh pertama abad ke 20, semua percaya bahwa dia tokoh besar . Ribuan orang akan berdesak-desakan menyaksikan ia naik podium. Ia jago berorasi, menyebar propaganda, membakar emosi massa. Ia sanggup mempengaruhi massa menggunakan bunyi baritonnya. Ribuan pengikutnya menganggap beliau oleh Erucokro [Ratu Adil] yang akan membebaskan penderitaan pribumi. Akan tetapi, dia menolak perkiraan itu. Dia merasa bukan Ratu Adil, hanya beliau memang pemimpin yang berusaha membebaskan pribumi menurut pengisapan kaum kolonial Belanda. Ia lantang bersuara, ?Kita diberi makan bukan karena kita diharapkan susunya?. Ia menganggap kolonial Belanda hanya berakibat kaum pribumi sebagai sapi perahan. Ia lawan penindasan itu menggunakan menyadarkan ribuan rakyat. Begitu takutnya sampai orang-orang kolonial menganggapnya oleh ?Raja Jawa? Meski nir menggunakan mahkota layaknya sunan atau sultan vorstenlanden.

Cokroaminoto yang lahir dalam desa Bakur sewaktu mini populer nakal & bahagia berkelahi. Sering kali dia berpindah-pindah sekolah, namun pada 1902, beliau berhasil menamatkan OSVIA [Sekolah Pamongpraja] pada Magelang. Setelah bekerja selama 3 tahun sebagai juru tulis dalam Ngawi, beliau pindah ke Surabaya

Sebagai wakil SI dalam Volksraad, pada 25 Nopember 1918, ia mengajukan mosi yang dikenal dengan Mosi Cokroaminoto. Melalui mosi itu Pemerintah Belanda dituntut supaya membentuk parlemen yang anggota-anggotanya dipilih dari rakyat dan oleh rakyat. Dituntut pula supaya pemerintah bertanggung jawab kepada parlemen.

Cokroaminoto mengecam pengambilan tanah untuk dijadikan perkebunan milik orang-orang Eropa. Ia mendesak Sumatera Landsyndicaat supaya mengembalikan tanah rakyat di Gunung Seminung [tepi Danau Ranau, Sumatera Selatan]. Dituntutnya pula supaya kedudukan dokter-dokter pribumi disamakan dengan dokter-dokter Belanda. Pada 1920, dengan tuduhan menyiapkan pemberontakan untuk menggulingkan Pemerintah Belanda, ia dimasukkan ke penjara. Selepas bebas, ia diminta lagi untuk duduk dalam Volksraad. Permintaan itu ditolaknya, sebab ia tidak mau lagi bekerjasama dengan Pemerintah Belanda.

Cokroaminoto tidak hanya bergiat dibidang politik, ia banyak pula menulis artikel di pelbagai surat kabar. Tulisan-tulisannya sering dimuat Oetoesan Hindia, Fadjar Asia, dan Bendera Islam. tetapi tak lama ia mengelola Koran Bendera Islam, Cokroaminoto mengembuskan napas pungkasannya pada umur 52 tahun. Jenazahnya segera dimakamkan di pemakaman Pakuncen Yogyakarta. Atas jasa-jasanya dalam bidang pergerakan nasional, Cokroaminoto dijadikan Pahlawan Kemerdekaan Nasional pada 1961.

0 Response to "HOS Cokroaminoto: Raja Jawa tanpa Mahkota"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel