Latest Updates

AMERIKA LATIN DAN DOKTRIN MONROE

4:02 PM

Pada dasa warsa awal abad ke-19, Amerika tengah & Selatan beralih ke gerakan revolusi. Gagasan kebebasan sudah mengusik masyarakat Amerika Latin sejak para koloni Inggris memperoleh kemerdekaan mereka. Penaklukan Napoleon atas Spanyol & Portugal dalam 1808 sebagai indikasi bagi masyarakat Amerika Latin untuk mengadakan pemberontakan. Menjelang 1822, dipimpin menggunakan cakap sang Simon Bolivar, Francisco miranda, jose de San martin dan miguel de hidalgo, sebagian besar Amerika hispanik?Menurut Argentina

Rakyat Amerika Serikat mencurahkan perhatian mendalam terhadap pada apa yang tampaknya merupakan pengulangan pengalaman mereka sendiri dalam memisahkan diri dari bawah kekuasaan eropa. Gerakan kemerdekaan Amerika Latin mempertegas keyakinan mereka akan pemerintahan otonomi. Pada 1822 Presiden james monroe, di bawah tekanan publik yang kuat, menerima wewenang untuk mengakui negara Amerika Latin baru dan segera bertukar menteri dengan mereka. Dengan demikian, dia menegaskan status mereka sebagai negara merdeka yang sesungguhnya, sepenuhnya terpisah dari ikatan lama mereka dengan eropa.

Tepat pada saat ini, rusia, Prusia, dan Austria membentuk persekutuan, Aliansi Suci, untuk melindungi diri mereka dari pemberontakan. Dengan turut campur di negara tempat gerakan masyarakat membahayakan monarki, aliansi tersebut–dipersatukan oleh Perancis pasca Napoleon–berniat mencegah penyebaran revolusi itu. kebijakan ini merupakan antitesis prinsip Amerika tentang penentuan nasib sendiri.

Selama Aliansi Suci ini membatasi kegiatannya di Dunia Lama, Amerika Serikat tidak mengkhawatirkannya. tetapi ketika aliansi tersebut mengumumkan niatnya untuk memulihkan kembali bekasbekas koloni Spanyol, masyarakat Amerika menjadi sangat khawatir. karena perdagangan Amerika Latin telah menjadi sangat penting bagi mereka, Inggris memutuskan untuk menghentikan tindakan semacam itu. London-jaminan gabungan Anglo-Amerika terhadap Amerika Latin, tetapi Sekretaris Negara john Quincy Adams meyakinkan monroes untuk bertindak secara unilateral: “Akan lebih jelas, juga lebih bermartabat, untuk menyatakan prinsip kami secara eksplisit kepada rusia dan Perancis, daripada muncul seperti pahlawan kesiangan dalam gelombang serdadu Inggris.”

source: history.com

Pada Desember 1823, dengan keyakinan bahwa AL Inggris akan membela Amerika Latin dari Aliansi Suci dan Perancis, Presiden monroe mengambil kesempatan dalam pidato tahunannya kepada kongres untuk menyampaikan apa yang kemudian dikenal sebagai Doktrin monroe – penolakan menoleransi perluasan dominasi lebih lanjut eropa di benua Amerika :

Benua Amerika...untuk selanjutnya janganlah dianggap sebagai sasaran bagi kolonialisasi di masa depan oleh kekuatan Eropa mana pun. Kita harus menganggap usaha apa pun dari pihak mereka untuk memperluas sistem (politik) mereka ke bagian mana pun belahan dunia ini sebagai ancaman terhadap perdamaian dan keamanan kita

Dengan koloni yang sudah ada atau ketergantungan terhadap kekuatan Eropa mana pun, kami tidak pernah campur tangan dan takkan pernah campur tangan. Tetapi dengan pemerintah yang telah menyatakan kemerdekaannya dan mempertahankan kemerdekaan itu, juga kemerdekaan yang telah kita... akui, kita tidak dapat membiarkan tindakan campur tangan apa pun yang bertujuan menekan mereka, atau mengendalikan nasib mereka dengan cara apa pun, oleh kekuatan Eropa mana pun dengan anggapan selain manifestasi disposisi tidak ramah terhadap Amerika Serikat.”

Doktrin monroe memperlihatkan semangat solidaritas dengan negara-negara republik yang baru merdeka di Amerika Latin. Sebagai balasannya, negara-negara tersebut mengakui kedekatan politiknya dengan Amerika Serikat dengan cara mendasarkan konstitusi baru mereka, dalam banyak hal, sesuai model Amerika Utara.

Sumber: Garis Besar Sejarah Amerika Serikat

Sam Ratulangi: Si Cerdas dari Tondano

8:02 AM

Gerungan Saul Samuel Jacob Ratulangi atau lebih dikenal sebagai Sam Ratulangi lahir pada Tondano, Sulawesi Utara, tanggal 5 Nopember 1890. Setelah menamatkan Hoofden School (Sekolah Raja) di Tondano, beliau melanjutkan pelajaran ke Sekolah Teknik pada Jakarta. Pada tahun 1915 dia berhasil memperoleh ijazah guru ilmu niscaya buat Sekolah Menengah dalam negeri Belanda. Empat tahun kemudian, beliau meraih gelar doktor Ilmu Pasti dan Ilmu Alam pada Swiss. Sam Ratulangi telah menonjol ketika belajar di Eropa, ketika pada negeri Belanda dia menjadi kepala Indische Vereniging lalu berganti nama menjadi Perhimpunan Indonesia, sebuah organisasi pelajarpelajar Indonesia di negeri Belanda, sedangkan saat pada Swiss, dia sebagai kepala organisasi pelajar-pelajar Asia.

Berikut karier Sam Ratulangi sekembalinya dari Eropa. Pertamatama dia mengajar ilmu pasti dalam AMS (setingkat Sekolah Menengah Umum) Yogyakarta. Ketika bertugas dalam Bandung, dia mendirikan Maskapai Asuransi Indonesia. Dari tahun 1924 hingga 1927, dia sebagai Sekretaris Dewan Minahasa di Manado, jabatan tadi dipergunakannya buat melakukan bisnis yang berguna bagi masyarakat , contohnya pembukaan wilayah baru buat pertanian, mendirikan yayasan dana belajar,

Pada tahun 1927 Ratulangi diangkat menjadi anggota Volksraad. Ia mengajukan tuntutan supaya Pemerintah Belanda menghapuskan segala perbedaan dalam bidang politik, ekonomi, dan pendidikan antara orang-orang Belanda dan pribumi. Kegiatan lain adalah turut mendirikan Vereniging Indonesische Academici (Persatuan Kaum Sarjana Indonesia) dan ikut andil dalam penerbitan majalah mingguan Peninjauan. Dari tahun 1938 sampai 1942, ia menjadi redaksi mingguan politik Nationale Commentaren.

Pada masa pendudukan Jepang Ratulangi diangkat menjadi anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia. Sesudah NKRI terbentuk, ia diangkat menjadi Gubernur Sulawesi. Namun, saat itu Sulawesi sudah diduduki oleh NICA - Belanda. Ia ditangkap oleh Belanda dan dibuang ke Serui, Irian Jaya. Dalam pembuangan ini ia bertemu dengan pejuang muda bernama Silas Papare. Sesudah dibebaskan, Sam Ratulangi kembali ke Jawa. Dalam Agresi Militer II Belanda, ia ditangkap kembali dan meninggal dalam status tawanan pada 30 Juni 1949 di Jakarta. Sempat dimakamkan di Ibu kota, jasadnya kemudian dipindahkan ke Tondano, tanah kelahirannya. Sam Ratulangi dijadikan Pahlawan Nasional pada tanggal 9

Nopember 1961.

Dinasti Fatimiyah

12:02 AM

Dinasti Fathimiyah berdiri pada Afrika dalam tahun 296 Hijriah/909 Masehi pada bawah pimpinan Ubaidullah (Al-Mahdi) yang mengaku berhak menjadi khalifah karena cucu Muhammad bin Ismail bin Ja?Far ash-Shadiq. Berdirinya dinasti ini nir lepas dari jasa seorang pendukung dari keturunan Ismail yg bernama Abu Abdullah asy-Syi?I

Dinasti Fathimiyah membentang di Barat wilayah Dinasti Idrisiyah dan Rustamiyah dan beribu kota di Mahdiyah. Dinasti Fathimiyah di Afrika selalu mengincar wilayah Timur dan berencana menguasai Mesir, lalu beralih ke Baghdad dan mewarisi Dinasti Abbasiyah.

Kematian Kafur al-Ikhsyidi di Mesir membuka pintu bagi pasukan Ubaidiyah untuk memasukinya. Jauhar ash-Shaqli, panglima pasukan Al-Muizz Lidillah, memasuki Fustat pada tahun 358 Hijriah/968 Masehi dan mendirikan kota Kairo. Empat tahun kemudian, Dinasti Ubaidiyah berpindah dengan seluruh anggotanya ke Kairo, ibu kota yang baru. Di Kairolah Dinasti Ubaidiyah berganti nama menjadi Dinasti Fathimiyah.

Pada tahun 359 Hijriah/969 Masehi, Fathimiyah telah menguasai Suriah bagian Selatan. Khalifah Abbasiyah, Al-Muqtadir Billah, terlihat tidak mampu menghalangi berdirinya dinasti ini. Bahkan, sang khalifah pernah membuat maklumat yang isinya menyangsikan keabsahan nasab AlMahdi. Sayangnya, hal itu malah membangkitkan kemarahan anak-cucu Hasyim, termasuk anak-cucu Ali.

Meski diterpa pro-kontra nasab, mereka berhasil menghidupkan keagungan dan mengangkat harkat martabat. Namun, hal itu hanya terjadi sebentar. Panglima-panglima dinasti ini lemah sehingga ikut menggoyahkan para menteri yang kuat. Keagungan dinasti menjadi pudar akibat perpecahan di dalam negeri dan akhirnya runtuh.

Kemunduran tersebut dimulai pada periode AlHakim Biamrillah karena tindakannya yang buruk, berani menghancurkan Gereja Qiyamat di Al-Quds, yang menjadi salah satu sebab terjadinya Perang Salib. Kemunduran itu semakin hebat pada periode Al-Mustanshir Billah. Dia terlahir dari seorang sahaya wanita yang terdidik di rumah seorang Yahudi bernama Abu Said at-Tustari. Sang ibu ikut menguasai urusan pemerintahan dan mengangkat beberapa menteri Yahudi, termasuk Shadaqah bin Yusuf al-Falahi dan Abu Said at-Tustari. Menterimenteri tersebut memberikan kedudukan kepada orang-orang seagamanya sehingga kaum muslimin menjadi lemah.

Pada periode Al-Mustanshir Billah, Fathimiyah diusir oleh Dinasti Saljuk dari Suriah. Fathimiyah juga diusir dari Sicilia oleh bangsa Norman di bawah pimpinan Roger pada tahun 461 Hijriah/ 1068 Masehi. Selain itu, muncul wabah penyakit yang dianggap paling lama di Abad Pertengahan, mulai tahun 446 sampai 454 Hijriah. Wabah yang oleh ahli sejarah disebut sebagai tahun-tahun paling berat itu disertai dengan perang di dalam negeri. Untunglah Al-Mustanshir memanggil Badr al-Jamali, penguasa ‘Aka, untuk menuntaskan perang dalam negeri. Mesir pun kembali menjadi aman dan damai.

Al-Mustanshir menikahi putri Badr dan mendapatkan putra bernama Al-Musta’li. Ketika wafat pada tahun 487 Hijriah/1094 Masehi setelah memerintah selama enam puluh tahun, putra Mustanshir yang bernama Nizar mengklaim diri sebagai khalifah. Memang, sebelum wafat AlMustanshir telah menunjuk dia sebagai putra mahkota. Namun, Al Afdhal bin Badr al-Jamali yang mengganti ayahnya menjadi panglima perang lebih suka Al- Musta’li, yang tidak lain keponakan Al-Afdhal sendiri. Hal itu menyebabkan Nizar terbunuh.

Kematian Nizar membuat anak-cucu Ismail terpecah menjadi dua kelompok, yaitu kelompok Musta’liyah dan kelompok Nizariyah. Pada periode Al-Musta’li, Perang Salib dimulai di negeri Suriah. Kaum Salib menduduki Baitul Maqdis pada tahun 493 Masehi/1099 Masehi. Setelah Al Musta’li masih ada beberapa khalifah lagi pada Dinasti Fathimiyah. Ada yang berakhir diturunkan dari takhta dan ada pula yang dibunuh. Sampai akhirnya, Shalahuddin al-Ayyubi meruntuhkan Dinasti Fathimiyah dan mendirikan Dinasti Ayyubiyyah pada tahun 564 Hijriah/1168 Masehi untuk Dinasti Abbasiyah.

dr. Soetomo: Sang Dokter pendiri Boedi Oetomo

4:02 PM

Karena pengaruh seniornya, seseorang pemuda 20 tahun yang telah 5 tahun studi dalam STOVIA [School tot Opleiding van Inlandsche Artsen] sebagai gusar. Di hari minggu jam 09.00 pagi, beliau kumpulkan beberapa pelajar dalam ruang kelas sekolahnya. Dengan sungguhsungguh dia jelaskan bahwa pemuda punya kiprah penting bagi masa depan bangsa pribumi Hindia, kemudian menggunakan berfokus beliau usulkan untuk membangun sebuah organisasi. Para pelajar yg ikut dalam rendezvous itu khidmat mendengarkan. Setelahnya, terbentuklah Boedi Oetomo dalam 20 Mei 1908,

itu adalah Soetomo.

Calon dokter pribumi yang lahir di desa Ngepeh ini terlahir dengan nama Soebroto. Masa kecilnya berada di Nganjuk. Saat ia sekolah di Bangil, ia mengganti namanya menjadi Soetomo dan berada di bawah asuhan kakek dan neneknya. Kemudian, Wedono Ngepeh R Soewadji, ayah Soetomo, mengirim anaknya menuju Batavia untuk sekolah di STOVIA pada 10 Januari 1903.

Boedi Oetomo yang didirikan Soetomo segera berkembang pesat. Organisasi ini kemudian memiliki tujuh cabang di beberapa kota, yakni Batavia, Bogor, Bandung, Magelang, Yogyakarta, Surabaya, dan Ponorogo. Kongres pertama segera digelar di Yogyakarta pada 3-5 Oktober 1908. Kepemimpinan segera dipegang oleh kaum aristokrat Jawa, kaum tua yang berpengalaman. Soetomo untuk sementara serius menyelesaikan pendidikan kedokterannya.

Pada 1911, Soetomo lulus dari STOVIA lalu segera bertugas sebagai dokter di Semarang. Ia segera pindah ke Tuban pada 1912 dan pindah lagi ke Lubuk Pakam [Sumatra Timur]. Ia ditarik lagi ke Jawa dan bertugas di Malang pada 1914. Saat bertugas di Malang, ia membasmi wabah pes yang melanda daerah Magetan pada 1916. Ia banyak memperoleh pengalaman dari seringnya berpindah tempat tugas. Antara lain, ia semakin banyak mengetahui kesengsaraan rakyat dan secara langsung dapat membantu mereka. Pada 1917, ia menuju ke Blora dan segera menikahi seorang noni Belanda, Everdina. Tidak lama setelahnya, ia bertugas di Baturaja. Hingga pada 1919, ia mendapat beasiswa untuk belajar di universitas Amsterdam Belanda. Tahun 1920, Soetomo berhasil lulus dengan baik dan kembali pulang ke Hindia.

Selain, berurusan dengan dunia penyembuhan yang sangat berarti bagi kaum “kromo” pribumi, Soetomo juga aktif dalam dunia pers pergerakan. Saat di Boedi Oetomo, ia ikut menerbitkan majalah Goeroe Desa dan juga surat kabar Boedi Oetomo yang terbit di Yogyakarta dan Bandung. Selepas ia kembali dari negeri Belanda, Soetomo juga mendirikan Indonesische Studie Club [ISC] di Surabaya pada 27 Juli 1924 dan dua tahun berikutnya segera menerbitkan surat kabar Soeloeh Indonesia. ISC berhasil mendirikan sekolah tenun, bank kredit, hingga koperasi. Pada 1931, ISC berganti nama menjadi Persatuan Bangsa Indonesia [PBI]. Di bawah pimpinan Soetomo, PBI berkembang pesat. Lalu pada Januari 1934, dibentuk Komisi Boedi Oetomo dengan PBI yang akhirnya membetuk fusi pada pertengahan 1935. Kongres peresmian fusi merupakan kongres terakhir Boedi Oetomo dan segera melahirkan Partai Indonesia Raya [Parindra]. Rapat perdana yang berlangsung pada 24-26 Desember 1935 segera mengangkat Sutomo sebagai ketua. Soetomo bersama Parindra berjuang untuk mencapai Hindia [Indonesia] merdeka.

Soetomo terus menggerakkan Parindra demi cita-cita kemerdekaan hingga tanpa tersadari, tiga tahun setelah membentuk partai politik itu, ia jatuh sakit. Saat itu, Soetomo berada di Surabaya. Dalam usia yang belum senja, Soetomo menghembuskan nafas terakhirnya. Ia meninggal dan dikuburkan di Surabaya dalam usia 49 tahun. Soetomo, seorang dokter Jawa, memiliki jasa besar bagi Hindia [Indonesia]. Hari lahir Boedi Oetomo, organisasi yang didirikan Soetomo, dikenang sebagai hari kebangkitan nasional. Dan selang 23 tahun selepas kepergiannya, presiden Soekarno memberi gelar pahlawan kemerdekaan Indonesia kepada dokter Soetomo.

Perang 1812: Amerika vs Inggris

8:02 AM

Amerika memasuki keadaan perang pada keadaan terpecah belah. Sementara wilayah Selatan

Pertempuran dimulai dengan serbuan ke kanada, yang , jika pemilihan waktu dan pelaksanaannya berjalan dengan tepat, akan menghasilkan gerakan bersama melawan montreal. Sebaliknya, strategi ini dijalankan dengan keliru dan berakhir dengan pendudukan Inggris di Detroit. Namun angkatan laut AS menangguk kesuksesan. Selain itu, kapal perang Amerika merubung Samudra Atlantik dan menangkap 500 kapal Inggris selama musim gugur dan musim dingin 1812 dan 1813.

Pada 1813, pertempuran terpusat di Danau erie. jendral William henry harrison–yang di kemudian hari menjadi presiden–memimpin angkatan bersenjata, relawan, dan orang biasa dari kentucky dengan tujuan merebut kembali Detroit. Pada 12 September, sementara masih berada di dataran tinggi Ohio, dia mendengar berita bahwa komodor Oliver hazard Perry telah meluluhlantakkan kapal induk Inggris di Danau erie. harrison menduduki Detroit dan mendesak masuk ke kanada, mengalahkan pasukan Inggris yang kabur serta sekutu mereka, suku Indian, di Sungai thames. Seluruh kawasan itu kembali berada di bawah kendali Amerika.

Setahun kemudian komodor thomas macdonough memenangkan adu senjata dengan armada kecil Inggris di Danau Champlain di bagian atas New York. Akibat lenyapnya dukungan angkatan laut, pasukan Inggris berkekuatan 10.000 orang mundur ke kanada. meski demikian, kapal perang Inggris menggempur perbatasan laut wilayah timur dengan perintah untuk ”menghancurkan dan meluluhlantakkan.” Pada malam itu, 24 Agustus 1814, satu pasukan ekspedisi mengalahkan militer Amerika dan berderap menuju Washington, D.C., meninggalkan kota itu dilalap api. Presiden james madison kabur ke Virginia.

source: britannica.com

Negosiator Inggris dan Amerika mengadakan pembicaraan di eropa. tetapi utusan Inggris memutuskan untuk menyerah ketika mendengar kemenangan macdonough di Danau Champlain. khawatir kekayaan Inggris akan habis karena biaya perang yang besar dalam Perang Napoleon, para negosiator Inggris raya menerima Perjanjian Ghent pada Desember 1814. Perjanjian ini menyatakan penghentian peperangan dan membentuk komisi untuk menyelesakan pertikaian perbatasan. tidak menyadari kedua negara telah menandatangani perjanjian damai, kedua pihak terus bertempur hingga 1815 di dekat New Orleans, Louisiana. Di bawah pimpinan jendral Andrew jackson, Amerika Serikat berhasil meraih kemenangan wilayah terbesar dalam perang ini, selamanya memupus harapan Inggris untuk mengukuhkan kembali pengaruh kontinentalnya di selatan perbatasan kanada.

Sementara Inggris dan Amerika bernegosiasi mengenai pampasan perang, delegasi Federalis yang dipilih oleh badan legislatif massachussets, rhode Island, Connecticut, Vermont, dan New hampshire berkumpul di hartford, Connecticut, untuk mengungkapkan protes terhadap ”perang tuan madison.” New england berhasil berdagang dengan musuh sepanjang konflik ini, dan beberapa daerah malah mendapatkan kemakmuran dari perniagaan ini. meski demikian, kaum Federalis mengklaim bahwa perang telah menghancurkan ekonomi. Akibat munculnya kemungkinan pemisahan diri dari Perserikatan, konvensi mengusulkan serangkaian amandemen konstitusional yang akan melindungi kepentingan New england. Alih-alih, pada akhir perang, ditandai dengan kemenangan telak di New Orleans, kenyataan tersebut membuat kaum Federalis dicap tidak setia pada negara, sesuatu yang tidak pernah bisa dihapuskan.

sumber: Garis Besar Sejarah Amerika Serikat

Tokoh-tokoh Filsafat China

12:02 AM

Menanggapi seluruh kekacauan yang terjadi pada Periode Musim Semi & Musim Gugur & Periode Negara-negara Berperang, beberapa tokoh filsafat ada di China.

Konfucius (551- 479 SM)

source: pixabay.Com

Seorang pembuat reformasi lahir di negara Lu pada tahun 551 SM. Ia bernama Kong Fuzi yang pengikutnya berkembang selama berabad-abad. Orang barat menyebut Kong Fuzi dengan nama Konfucius (Confusius). Konfusius berasal dari keluarga miskin yang terpandang. Dari kecil dia adalah anak yang teratur dan sangat menaruh minat pada ritual-ritual penghormatan nenek moyang dan berbagai ritual-ritual keagamaan China lainnya. Ritual-ritual ini dibarengi dengan puisi dan syair yang diwariskan turun-temurun secara lisan sebelum ditulis dan dibukukan.

Konfusius memiliki daya ingat yang kuat. Dia bisa mengingat ratusan ritual-ritual. Saat berusia dua puluh tahun dia bekerja sebagai seorang pencatat pengiriman biji padi milik negara. Dia mendapat reputasi yang sangat besar pada minatnya, dia menjadi semacam penyimpan data pelaksanaan ritual yang berjalan. Dia sering mendapat panggilan dari istana untuk memastikan apakah ritual-ritual sudah berjalan dengan benar. Dia mulai mempunyai murid-murid yang bersemangat untuk belajar, dan bahkan dia menjadi pengajar bagi putra-putra pejabat kerajaan. Dia mengajar muridmuridnya mencari, baik keteraturan maupun stabilitas yang tidak tampak di dalam dunia.

Konfusius bukanlah seorang penemu filsafat. Ajarannya mencoba untuk mempertahankan yang terbaik dari masa lalu dengan maksud mencari jalan untuk masa depan. Penyelidikannya akan masa lalu memberinya pengetahuan bahwa China yang terpecah-pecah, baik ketenangan maupun kebaikannya, disebabkan karena cara melaksanakan kewajiban-kewajiban yang tidak sesuai. Menurutnya dengan aturan-aturan kesopananlah watak dibentuk. Tanpa aturan-aturan kesopanan, kehormatan menjadi kesibukan yang menghabiskan tenaga, kehati-hatian menjadi sifat malumalu, keberanian menjadi pembangkangan, dan keterusterangan menjadi kekasaran. Dia mengumpulkan puisi-puisi dan lagu-lagu paling kuno China dan dari sanalah muridnya dapat belajar. Sebelum umurnya empat puluh tahun ia terpaksa melarikan diri dari Lu karena sebuah pergolakan. Pada tahun-tahun terakhir hidupnya ia menulis sebuah buku sejarah, sebuah kisah yang terkenal sebagai Sejarah Musim Semi dan Musim Gugur. Dia meninggal pada tahun 479 SM.

Sun tzu

source: amazon.com

Seorang filsuf lain membuat dasar-dasar berpikir untuk menyatukan China. Dia adalah Sun-Tzu seorang jendral perang. Pada tahun 500 SM dia menulis sebuah buku yang berjudul “Seni Berperang”. Dalam bukunya itu ia menulis bahwa seni berperang adalah bagaimana menaklukan musuhmusuh sambil menghindari sebanyak mungkin perang yang sesungguhnya. Keunggulan tertinggi adalah mematahkan perlawanan musuh tanpa berperang. Menurutnya penyerangan sebuah kota secara ekstrim bukanlah strategi yang baik, karena akan menghabiskan banyak tenaga dan memberi kesempatan bagi pemimpin lain dari dalam negeri untuk memegang kekuasaan. Dia berpendapat bahwa musuh dalam negeri sama berbahayanya dengan musuh dari negara sebelah. Dia juga berpendapat bahwa semua perang didasarkan pada kebohongan: pada saat menyerang kita harus kelihatan tidak bisa, ketika menggunakan kekuatan kita harus kelihatan seperti tidak aktif, ketika kita dekat kita harus membuat musuh percaya bahwa kita masih jauh, dan ketika kita jauh kita harus membuat musuh percaya bahwa kita sudah dekat. Dalam bukunya ia menyimpulkan bahwa perang yang berkepanjangan tidak akan menghasilkan keuntungan apa-apa.

Aliran tao

Pada periode negara-negara berperang munculah aliran filsafat Tao (artinya: jalan). Menurut ajaran Tao, manusia membawa kebejatan moral sejak lahir. Para penganut Tao percaya bahwa jalan menuju kedamaian adalah dengan pasif menerima segala sesuatu apa adanya, yang kelihatan pasti dapat dilakukan dengan nyata. “apa yang terjadi, terjadilah” inilah filosofi praktis pada masa yang sangat buruk. Panganut Tao yang paling terkenal adalah Chuang Tzu.

Sumber: Sekilas Sejarah Dunia Oleh Tim Program BSB

Kerajaan Samudera Pasai

4:02 PM

Sejarah Berdirinya Kerajaan Samudera Pasai

Awal berdirinya Kerajaan Pasai, yang juga dikenal sebagai Samudera Darussalam atau Samudera Pasai, belum diketahui secara pasti dan masih menjadi perdebatan para ahli sejarah. Namun, dalam sebuah catatan Rihlah ila I-Masyriq (Pengembaraan ke Timur) dari Ibnu Batutah dapat ditarik kesimpulan bahwa Kerajaan Samudera Pasai berdiri lebih awal dibandingkan dinasti Usmani di Turki yang pernah menjadi salah satu dinasti terbesar di dunia. Jika dinasti Turki Usmani mulai menancapkan kekuasaanya pada tahun 1385 M, maka Kerajaan Samudera Pasai lebih dahulu menebarkan pengaruhnya di Asia Tenggara kira-kira pada tahun 1297.

Catatan Ibnu Batutah tersebut bertuliskan “Sebuah negeri yang hijau dengan kota pelabuhannya yang besar dan indah,” ketika menggambarkan kekagumannya terhadap keindahan dan kemajuan Kerajaan Samudera Pasai yang sempat disinggahinya selama 15 hari pada 1345 M. pendapat bahwa kerajaan Samudra Pasai lebih tua dari dinasti Usmani di Turki dikuatkan dengan catatan dari Marco Polo, seorang penjelajah asal Venezia (Italia), yang telah mengunjungi Samudera Pasai pada 1292 M. Marco Polo bertandang ke Samudera Pasai saat menjadi pemimpin rombongan yang membawa ratu dari Cina ke Persia. Bersama dua ribu orang pengikutnya, Marco Polo singgah dan menetap selama lima bulan di bumi Serambi Makkah itu. Dan perjalanan dari Marco Polo tersebut dituliskan dalam sebuah buku yang berjudul Travel of Marco Polo.

Sejumlah ahli sejarah Eropa pada masa pendudukan Kolonial Hindia Belanda seperti Snouck Hurgronje, J.P Moquette, J.L. Moens, dan J. Hulshof Poll yang sudah beberapa kali menyelidiki asal-usul berdirinya Kerajaan Samudera Pasai menyebutkan bahwa Kerajaan Samudera Pasai muncul sekitar pertengahan abad ke-13 M dengan Sultan Malik al-Saleh (kadang ditulis Malik Ul Salih, Malik Al Saleh, Malikussaleh, Malik Al Salih, atau Malik Ul Saleh) sebagi raja pertamanya.

Nama Samudera Pasai sendiri sebenarnya adalah “Samudera Aca Pasai” yang berarti “Kerajaan Samudera yang baik dengan ibukota di Pasai.” Meski pusat pemerintahan kerajaan itu sekarang tidak diketahui secara pasti, tetapi para ahli sejarah memperkirakan lokasinya berada di sekitar Blang Melayu. Konon, nama “Samudera” yang dipakai sebagai nama kerajaan itulah yang kini menjadi nama pulau Sumatera karena adanya pengaruh dialek oleh orang-orang Portugis. Sebelumnya, nama pulau tersebut adalah Perca. Berbeda dengan orang Portugis, seperti yang bisa dilihat dalam tulisan-tulisan I’tsing, para pengelana Tiongkok menyebut Sumatera dengan “ChinCou” atau pulau emas. Sementara Raja Kertanegara dari Singosari yang terkenal itu menyebut pulau ini dengan sebutan “Suvarnabhumi” atau “Swarnabumi” yang artinya pulau emas.

Kerajaan Samudera Pasai merupakan kerajaan Islam yang terletak di pesisir pantai utara Sumatera, kurang lebih terletak di kota Lhokseumawe, Aceh Utara. Beberapa kitab atau catatan yang digunakan untuk melacak sejarah Kerajaan Samudera Pasai antara lain adalah Hikayat Raja Pasai, Sejarah Melayu, dan Hikayat Raja Bakoy. Meski nuansa mitos yang masih kental di dalamnya tak jarang menjadi kendala ketika karya ini hendak ditafsirkan, Hikayat Raja Pasai tercatat sudah memberikan andil yang cukup besar dalam menguak riwayat Kesultanan Samudera Pasai.

Sementara terkait penamaan Samudera Pasai, J.L. Moens menyatakan bahwa kata “Pasai” berasal dari kata “Parsi.” Menurut Moens, pada abad ke-7 banyak pedagang yang berasal dari Parsi atau Persia yang mengucapkan kata Pasai dengan kata Pa’Se. Pendapat J.L Moens ini mendapatkan dukungan dari beberapa peneliti sejarah lainnya, seperti oleh Prof. Gabriel Ferrand melalui bukunya yang berjudul L’Empire Sumatranais de Crivijaya dan oleh Prof. Paul Wheatley dengan buku the Golden Khersonese. Baik Gabriel maupun Paul menyandarkan datadatanya pada keterangan dari para pengelana Timur Tengah yang melakukan perjalanan ke Asia Tenggara. Mereka berdua juga meyakini bahwa pada abad ke-7, pelabuhan atau bandar-bandar besar di Asia Tenggara dan di kawasan Selat Malaka telah ramai dikunjungi oleh para pedagang dari Asia Barat. Data tersebut diperkuat oleh fakta bahwa di setiap kota dagang tersebut sudah ada permukiman-permukiman pedagang Islam yang singgah dan menetap di sana.

Di tempat lain, H. Mohammed Said, seorang penulis yang mendedikasikan hidupnya untuk meneliti dan menerbitkan buku-buku perihal Aceh, termasuk meneliti kerajaan Samudera Pasai dan Kesultanan Aceh Darussalam, menyatakan bahwa kata “Pasai” dalam Samudera Pasai berasal dari para pedagang Cina. Menurutnya, kata “Po Se” yang populer digunakan pada pertengahan abad ke-8 M identik dengan penyebutan kata “Pase” atau “Pasai”. Ada juga pendapat lain yang menyatakan bahwa “Pasai” berasal dari kata “Tapasai” yang berarti “tepi laut.” Kata “Tapa” sendiri masih banyak ditemui dalam bahasa Polinesia yang berarti “tepi”, sedangkan kata “Sai” berarti “pantai”. Jadi, baik “Samudera” atau “Pasai” memiliki arti yang hampir sama yaitu “negara yang terletak di tepi laut.”

Seorang pencatat asal Portugis, Tome Pires, yang pernah menetap di Malaka pada kurun waktu 1512-1515, menyebutkan bahwa Pasai adalah kota terpenting untuk seluruh Sumatera pada zamannya. Menurut Pires, penduduk Pasai waktu itu kurang lebih berjumlah 20.000 orang. Sementara itu, Marco Polo dalam lawatannya dari Tiongkok ke Persia pada tahun 1267 M yang kemudian singgah ke Pasai pada tahun 1292 M menuliskan bahwa saat itu sudah ada kerajaan Islam di Nusantara yang tak lain adalah Samudera Pasai.

Kala itu Marco Polo ikut dalam rombongan Italia yang mendapatkan undangan dari Kubilai Khan, raja Mongol yang menguasai daerah Tiongkok. Menurut Marco Polo, penduduk Pasai waktu itu belum banyak yang memeluk Islam, namun komunitas orang-orang Arab atau Saraceen sudah cukup banyak dan berperan penting dalam upaya mengislamkan penduduk Aceh. Marco Polo menyebut daerah tersebut sebagai Giava Minor atau Java Minor (Jawa Kecil).

Sementara itu, dalam “Seminar Sejarah Nasional” yang diselengarakan di Medan, Sumatera Utara pada 17-20 Maret 1963, maupun dalam “Masuk dan Berkembangnya Islam di Daerah Istimewa Aceh” yang diselenggarakan pada 10-16 Juli 1978 di Banda Aceh, yang dihadiri di antaranya adalah Prof. Hamka, Prof A. Hasjmy, Prof H. Aboe Bakar Atjeh, H. Mohammad Said dan M.D. Mansoer, telah menemukan perbedaan pada cara pandang sejarah berdirinya Kerajaan Samudera Pasai. Berdasarkan petunjuk dan sumber-sumber yang lebih baru, di antaranya dari para musair Arab dan Tiongkok yang pernah ke Asia Tenggara dan ditambah dengan dua catatan lokal, yaitu Idharul Haq Fi Mamlakatil Peureulak karya Abu Ishak Al-Makarany dan Tawarich Raja-raja Kerajaan Aceh karya Yunus Djamil, para pakar sejarah nasional itu menyimpulkan bahwa Kesultanan Samudera Pasai sudah berdiri sejak abad ke-11 (tahun 433 H/1042 M), dengan pendiri dan sultan pertamanya adalah Maharaja Mahmud Syah, yang memerintah pada tahun 433-470 H/1042-1078 M.

Menurut G.P. Roufaer, sejarawan Belanda yang serius mendalami sejarah Kerajaan Samudera Pasai, menyimpulkan bahwa letak Pasai mula-mula berada di sebelah kanan Sungai Pasai sementara Samudera berada di sebelah kiri sungai. Kemudian lambat laun kedua tempat tersebut menjadi satu menjadi Samudera Pasai. Jelasnya, Kerajaan Samudera Pasai adalah daerah aliran sungai yang hulunya berada jauh di pedalaman daratan tinggi Gayo, Kabupaten Aceh Tengah.

Ada banyak teori yang berkembang tentang perkiraan asalusul berdirinya Kerajaan Samudera Pasai. Salah satu pendapat menyatakan bahwa Kerajaan Samudera Pasai merupakan kelanjutan dari kerajaan-kerajaan pra-Islam yang sudah ada sebelumnya. Hal ini seperti tang tertuang dalam buku berjudul Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-negara Islam Di Nusantara karya Slamet Muljana yang menyatakan bahwa Nazimuddin Al-Kamil, Laksamana laut dari Dinasti Fatimiyah di Mesir berhasil menaklukkan kerajaan HinduBuddha yang berada di Aceh dan menguasai salah satu daerah subur yang ada di sana yaitu Pasai. Nazimuddin Al-Kamil kemudian mendirikan kerajaan kecil di Pasai pada tahun 1128 M dengan nama Samudera Pasai.

Alasan Dinasti Fatimiyah melakukan penaklukan terhadap Pasai sendiri adalah karena memang ingin menguasai bandar dagang yang saat itu sangat ramai di Selat Malaka. Bukan hanya itu, Dinasti Fatimiyah juga telah mengerahkan armada perangnya untuk merebut kota Kambayat di Gujarat Arab dan menyerang penghasil lada, yakni Kampar Kanan dan Kampar Kiri di Minangkabau. Dalam ekspedisi tersebut, Nazimuddin Al-Kamil gugur dan kemudian pada tahun 1168 Dinasti Fatimiyah Mesir dikalahkan oleh tentara dari Dinasti Salahuddin yang menganut mazhab Syai’i. Dengan runtuhnya Dinasti Fatimiyah tersebut, maka secara otomatis hubungan antara Samudera Pasai dan Mesir terputus. Kafrawi Al-Kamil kemudian melanjutkan kepemimpinan Nazimuddin Al-Kamil yang telah gugur. Tetapi tahun 1204 M, kekuasaan Samudera Pasai jatuh ke tangan Laksamana Johan Jani dari pulau We. Di bawah kekuasaan Laksamana Johan Jani, kekuasaan Samudera Pasai menjadi kekuatan maritim yang kuat di Nusantara pada masa itu.

Di Mesir sendiri setelah dikuasai oleh Dinasti Salahuddin, muncul Dinasti Mamaluk yang menggantikan Dinasti Fatimiyah. Sama dengan pendahulunya, Dinasti Mamaluk juga berniat menguasai perdagangan di Pasai. Niat tersebut pun dilancarkan dengan mengirim pendakwah yang telah menimba ilmu di Makkah, yaitu Syaikh Ismail dan Fakir Muhammad yang sebelumnya telah berdakwah di Pantai Barat India. Di Pasai, kedua utusan tersebut bertemu dengan Marah Silu (Meurah Silu) yang saat itu menjadi salah satu anggota angkatan perang Kerajaan Pasai. Syaikh Ismail dan Fakir Muhammad kemudian berhasil membujuk Marah Silu untuk memeluk Islam dan membuat kerajaan tandingan untuk kerajaan Pasai yang akan dibantu oleh Dinasti Mamaluk di Mesir dan berganti nama menjadi Sultan Malik al-Saleh. Akhirnya Marah Silu dinobatkan menjadi Raja Kerajaan Samudera yang berada di kiri dari Sungai Pasai dengan letak menghadap ke arah Selat Malaka. Namun demikian, ternyata kedua kerajaan tersebut justru bersatu menjadi Kerajaan Samudera Pasai.

Keislaman Marah Silu juga disinggungkan dalam catatan Hikayat Raja Pasai dengan memberikan penjelasan bahwa Nabi Muhammad Saw. telah menyebutkan nama kerajaan Samudera dan menyuruh agar daerah tersebut diislamkan oleh sahabat Nabi. Dari sini, bisa ditarik kesimpulan bahwa ada kemungkinan Islam telah masuk ke Nusantara tidak lama setelah Nabi Muhammad wafat yakni (abad pertama Hijriah atau abad ke 7-8 M) atau bahkan muncul kemungkinan bahwa Islam masuk ke Indonesia langsung dari Mekkah.

Marah Silu adalah keturunan dari suku Imam Empat atau yang lebih dikenal sebagai Sukee Imuem Peuet, yaitu sebuah suku dari Champa yang merupakan pendiri kerajaan-kerajaan di Aceh sebelum berkembangnya agama Islam. Di antara empat kerajaan Hindu-Buddha yang didirikan oleh Sukee Imuem Peuet adalah Peureluak (Perlak) yang terletak di Aceh Timur, Jeumpha (Champa) di Bireun, Kerajaan Sama Indra di Pidie, dan Indra Purba di Aceh Besar/Banda Aceh.

ultan Malik al-Saleh kemudian menikah dengan putri Ganggang Sari, keturunan Sultan Aladdin Muhammad Amin bin Abdul Kadi dari kerajaan Perlak. Dari pernikahan ini Sultan Malik al-Saleh dikaruniai dua orang putra yaitu Muhammad dan Abdullah. Kelak, Muhammad dipercaya untuk memimpin kerajaan Pasai dengan gelar Sultan Muhammad Malikul Zahir (Sultan Malik al-Tahir), berdampingan dengan ayahnya yang masih memimpin kerajaan Samudera. Sementara Abdullah lebih memilih keluar dari keluarga besar kerajaan Samudera Pasai dan mendirikan kerajaan sendiri yaitu Kerajaan Aru Barumun yang kurang lebih berdiri pada tahun 1295 M.

Menurut catatan Ibnu Battutah, kerajaan Samudera mengalami perkembangan pesat, bahkan bisa dikatakan berada dalam masa kejayaan di bawah kepemimpinan Muhammad Malikul Zahir. Hal ini ditandai dengan aktivitas perdagangan yang sudah maju, ramai, dan sudah menggunakan koin emas sebagai alat pembayaran. Ditambah lagi, posisi Kerajaan Pasai yang berada di aliran lembah sungai juga membuat tanah pertanian menjadi subur sehingga padi yang ditanam oleh penduduk Kerajaan Islam Pasai pada abad ke 14 bisa dipanen dua kali setahun.

Masih dalam catatan Ibnu Battutah, dijelaskan bahwa Muhammad Malikul Zahir adalah raja yang sangat tertarik dengan ilmu pengetahuan, bahkan Muhammad Malikul Zahir sempat mendirikan pusat studi Islam di lingkungan kerajaan yang dijadikan tempat diskusi para ulama dan elit kerajaan. Maka tidak berlebihan jika kemudan Ibnu Battutah memasukkan nama Muhammad Malikul Zahir sebagai salah satu dari tujuh raja di dunia yang memiliki kemampuan luar biasa dengan kepribadian yang sangat rendah hati.

Sultan Muhammad Malikul Zahir dikaruniai dua orang putra, yaitu Malikul Mahmud dan Malikul Mansur. Ketika Sultan Muhammad Malikul Zahir wafat karena sakit, kerajaan dipegang oleh ayahnya, Sultan Malik Al Salih, yang juga memimpin kerajaan Samudera. Karena masih terlalu muda, maka kedua putra Muhammad Malikul Zahir dititipkan oleh Sultan Malik al-Salih pada ahli kenegaraan dan keagamaan, Malikul Mahmud dititpkan kepada Sayid Ali Ghitauddin sedangkan Malikul Mansur dititipkan pada Sayid Semayamuddin.

Setelah kedua putra tersebut dianggap layak untuk memimpin kerajaan, maka Sultan Malik al-Salih menyerahkan tampuk kekuasaan kepada kedua putra Muhammad Malikul Zahir, di mana diputuskan Malikul Mahmud memimpin kerajaan Pasai dan Malikul Mansur memimpin kerjaan Samudera, sesuai dengan hasil musyawarah para ulama dan para petinggi kerajaan. Dalam perjalanannya, disebutkan bahwa hubungan antara keduanya tidak berlangsung harmonis karena diam-diam Malikul Mansur tertarik kepada istri Malikul Mahmud. Malikul Mansur kemudian diusir dari kerjaan dan meninggal ketika berada dalam perjalanannya. Akhirnya kerajaan Samudera dan Kerajaan Pasai pun menjadi satu kerajaan yang dikenal sebagai kerajaan Samudera Pasai dengan Malikul Mahmud sebagai rajanya.

Pada tahun 1346 terjadi pergantian kekuasaan dari sultan Malikul Mahmud kepada putranya yaitu Ahmad Permadala Permala dengan gelar kehormatan Sultan Ahmad Malik al-Zahir. Dalam sebuah catatan dituliskan bahwa Sultan Ahmad Malik al-Zahir memiliki lima orang anak, tiga putra dan dua putri. Ketiga putra itu adalah Tun Beraim Bapa, Tun Abdul Jalil dan Tun Abdul Fadil, sementara kedua putrinya adalah Tun Medam Peria dan Tun Takiah Dara.

Sultan Ahmad Malik al-Zahir dikenal sebagai raja yang memiliki citra buruk di mata masyarakatnya karena Sultan Ahmad Malik al-Zahir menaruh birahi pada kedua putrinya sendiri. Tak pelak sikapnya yang demikian itu membuat marah para petinggi kerajaan Samudera Pasai, termasuk Tun Beraim Bapa. Tun Beraim Bapa kemudian berusaha melindungi kedua saudara perempuannya dari jeratan nafsu ayah kandungnya dengan menyembunyikan kedua saudarinya di sebuah tempat. Merasa mendapat pertentangan dari putra sulungnya sendiri, Sultan Ahmad Malik al-Zahir murka dan menyuruh utusan untuk membunuh Tun Beraim Bapa. Sang putra mahkota yang seharusnya mewarisi tahta kerajaan itu pun meninggal karena diracun oleh utusan ayahnya. Merasa terharu dan tidak terima dengan perlakuan biadab sang ayah, Tun Medam Peria dan Tun Takiah Dara kemudian memutuskan untuk mengakhiri hidup mereka dengan meminum racun yang telah membunuh kakaknya.

Kebiadaban Sultan Ahmad Malik al-Zahir ternyata tidak berhenti sampai di situ. Mengetahui bahwa putri dari kerajaan Majapahit yaitu Radin Galuh Gemerencang jatuh cinta kepada Tun Abdul Jalil, Sultan Ahmad al-Zahir yang juga menaruh hati kepada kecantikan dari putri raja Majapahit itu kembali menyuruh anak buahnya untuk menghabisi nyawa putra keduanya tersebut dan membuang jenazah Tun Abdul Jalil ke tengah laut.

Radin Galuh Gemerencang yang sangat merindukan pujaan hatinya, Tun Abdul Jalil, kemudian pergi bersama para pengawal menuju ke Pasai. Sesampainya di Pasai, Radin Galuh Gemerencang terkejut setelah mendengar berita bahwa sang putra mahkota meninggal dengan tragis di tangan ayahnya sendiri. Karena tidak kuasa menahan kesedihan, sang putri kemudian ikut menenggelamkan diri di tempat jenazah Tun Abdul Jalil ditenggelamkan.

Rombongan pengawal Radin Galuh Gemerencang yang tersisa kembali ke Jawa dan melaporkan kematian sang putri kepada Raja Majapahit. Mendengar berita tragis dan kebiadaban dari Raja Pasai, Raja Majapahit geram dan mengirim pasukan untuk menggempur kerajaan Pasai. Dalam peperangan itu, kerajaan Pasai akhirnya kalah dan Sultan Ahmad al-Zahir mengungsi ke daerah bernama Menduga yang berjarak kurang lebih lima belas hari perjalanan kaki dari Pasai. Sementara itu pasukan Majapahit yang telah menaklukan kerjaan Pasai dan mengambil harta rampasan kemudian berlayar kembali ke Jawa. Dalam perjalanannya, pasukan Majapahit juga sempat menaklukkan kerajaan Jambi dan Palembang.

Menurut sejarah, dalam silsilah kerajaan Pasai terdapat nama Sultanah Nahrasiyah (Nahrisyyah) Malikul Zahir, raja perempuan pertama di kerajaan Islam Nusantara yang bertahta dari tahun 1420 hingga 1428. Sultanah Nahrasiyah memiliki penasehat kontroversial bernama Ariya Bakooy yang bergelar Maharaja Bakooy Ahmad Permala. Ariya Bakooy pernah diperingatkan oleh para ulama agar tidak mengawini puterinya sendiri tapi peringatan itu ditentangnya. Bahkan, karena tidak terima keinginan dirinya ditentang, Ariya Bakooy sampai membunuh 40 ulama. Ariya Bakooy akhirnya tewas di tangan Malik Musthofa yang bergelar Pocut Cindan Simpul Alam, yang tidak lain adalah suami Sultanah Nahrasiyah dengan bantuan Sultan Mahmud Alaiddin Johan Syah dari Kerajaan Aceh Darussalam (1409-1465).

Sultanah Nahrasiyah dalam catatan sejarah merupakan seorang perempuan muslimah yang berjiwa besar. Hal ini dibuktikan dengan hiasan di makamnya yang dibuat dengan sangat istimewa. Pada nisannya, tertulis nukilan huruf Arab terjemahannya berbunyi: “Inilah kubur wanita bercahaya yang suci, ratu yang terhormat, almarhum yang diampunkan dosanya, Nahrasiyah, putri Sultan Zainal Abidin, putra Sultan Ahmad, putra Sultan Muhammad, putra Sultan Mailkus Salih. Kepada mereka itu dicurahkan rahmat dan diampunkan dosanya. Mangkat dengan rahmat Allah pada hari Senin, 17 Zulhijjah 832.”

Berikut ini adalah silsilah Raja-raja Kerajaan Samudera Pasai:

1. Sultan Malik al-Saleh (1267-1297 M)

2. Sultan Muhammad Malik al-Zahir (1297-1326 M)

3. Sultan Mahmud Mahmud (1326-1345 M)

4. Sultan Malikul Mansur

5. Sultan Ahmad Malik al-Zahir (1346-1383 M)

6. Sultan Zain al-Abidin Malik al-Zahir (1383-1405)

7. Sultanah Nahrasiyah (1420-1428)

8. Sultan Sallah al-Din (1402)

9. Sultan Abu Zaid Malik al-Zahir (1455)

10. Sultan Mahmud Malik al-Zahir (1455-1477)

11. Sultan Zain al-Abidin (1477- 1500)

12. Sultan Abdullah Malik al-Zahir (1501-1513) 13. Sultan Zain al-Abidin (1513-1524)

Kehidupan Sosial Politik Kerajaan Samudera Pasai

Pada masa Kerajaan Samudera Pasai, para pedagang telah menggunakan ceitis atau mata uang berbentuk uang kecil, sedangkan yang terbuat dari emas disebut dengan dramas (mata uang emas dibuat dari emas sebenarnya tidak murni dari emas semua tetapi terbuat dari serbukan emas dan perak). Jika ibandingkan dengan nilai mata uang portugis crusade, maka perbandingannya adalah 9 dramas = 1 crusade = 500 cash.

Di samping seorang sultan yang menjadi pimpinan kerajaan, ada juga beberapa jabatan dalam kerajaan seperti: Menteri Besar (Perdana Menteri atau Orang Kaya Besar), Bendahara, Komandan Militer atau Panglima Angkatan laut yang lebih dikenal dengan gelar Laksamana, Sekretaris Kerajaan, Kepala Mahkamah Agama yang dinamakan Qadi, dan Syahbandar yang mengepalai serta mengawasi pedagang-pedagang asing di kotakota pelabuhan yang berada di bawah pengaruh kerajaan itu. Biasanya para Syahbandar ini juga menjabat sebagai penghubung antara sultan dengan para pedagang asing. Dalam bidang keagamaan, Ibnu Batutah menceritakan bagaimana taatnya Sultan Samudera Pasai terhadap agama Islam dari madzhab syai’i dan Sultan Samudera Pasai selalu dikelilingi oleh ahli-ahli Islam. Kesultanan Samudera Pasai merupakan kerajaan besar, pusat perdagangan dan perkembangan agama Islam.

Sebagai sebuah kerajaan besar, Samudera pasai juga menghasilkan banyak karya tulis yang baik. Sekelompok minoritas kreatif berhasil memanfaatkan huruf Arab yang dibawa oleh agama Islam untuk menulis karya mereka dalam bahasa Melayu. Inilah yang kemudian disebut sebagai bahasa Jawi dan hurufnya disebut Arab Jawi. Di antara karya tulis tersebut adalah Hikayat Raja Pasai yang mana bagian awal teks ini diperkirakan ditulis sekitar tahun 1360 M. Hikayat Raja Pasai ini juga sekaligus menandai dimulainya perkembangan sastra Melayu klasik di bumi nusantara. Bahasa Melayu itu juga yang kemudian digunakan oleh Syaikh Abdurrauf al-Singkili untuk menuliskan buku-bukunya.

Bersamaan dengan berkembangnya sastra Melayu klasik, di Pasai juga berkembang ilmu tasawuf. Di antara buku tasawuf yang diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu adalah Durru al-Manzum karya Maulana Abu Ishak yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu atas permintaan dari Sultan Malaka, Makhdum Patakan. Kitab inilah yang kemudian dijadikan rujukan dalam melihat posisi Kerajaan Samudera Pasai dalam perannya sebagai pusat Tamadun Islam di Asia Tenggara pada masa itu.

Perkembangan dan Masa Keemasan

Pada masa kejayanya, kerajaan Samudera Pasai merupakan pusat perniagaan penting di kawasan Nusantara. Samudera Pasai memiliki banyak bandar yang dikunjungi oleh para saudagar dari berbagai negeri seperti Cina, India, Siam, Arab dan Persia. Alasan mengapa Kesultanan Samudera Pasai tergabung dan ikut andil dalam jaringan perdagangan antar bangsa adalah letaknya yang berada di kawasan Selat Malaka yang menjadi jalur perdagangan internasional. Jarak pelayaran yang begitu jauh antara Arab dan Cina menjadikan Kerajaan Samudera Pasai sebagai tempat singgah para pedagang, terlebih karena pelayaran mengharuskan para pedagang menunggu angin musim yang cocok untuk berlayar meneruskan perjalanan.

Dalam kurun abad ke-13 hingga awal abad ke-16, Pasai merupakan wilayah penghasil rempah-rempah terkemuka di dunia, dengan lada sebagai salah satu komoditas andalannya. Setiap tahunnya, Pasai mampu mengekspor lada dengan produksi yang cukup besar. Tak hanya itu, Pasai juga menjadi produsen komoditas lainnya seperti sutra, kapur barus, dan emas. Samudera Pasai mengeluarkan mata uang emas yang disebut dirham dan kemudian digunakan secara resmi di kerajaan tersebut.

Di samping sebagai pusat perdagangan, Samudera Pasai juga merupakan pusat perkembangan agama Islam. Komposisi masyarakat di Kerajaan Pasai sendiri terbagi dalam beberapa lapis, meliputi Sultan, golongan abdi kerajaan, alim ulama, para pedagang dan hamba sahaya. Pada lapisan abdi kerajaan terbagi lagi menjadi perdana menteri, menteri, tentara, pegawai dan pesuruh. Kendati orang Arab yang tinggal di Pasai tidak sebanyak orang dari India, tapi orang Arab memberikan pengaruh yang sangat kuat ke dalam sistem kerajaan, bahkan dalam menentukan kebijakan sang raja.

Semasa Sultan Malik Al-Saleh menjabat sebagai penguasa pertama kerajaan Pasai, terdapat orang-orang besar di negeri itu, di antaranya adalah Tun Sri Kaya dan Tun Baba Kaya. Kedua orang besar ini juga ikut berperan dalam mengontrol jalannya pemerintahan dengan gelar Sayid Ali Ghitauddin dan Sayid Asmayuddin.

Kemajuan Kerajaan Samudera Pasai dapat dilihat dari adanya aktivitas perdagangan yang semakin maju dan ramai ditambah dengan sudah mengenal penggunaan koin emas sebagai alat pembayaran, Ibnu Batutah mengisahkan, setelah berlayar selama 25 hari dari Barhnakar (sekarang masuk wilayah Myanmar), ia mendarat di sebuah tempat yang sangat subur. Ibnu Batutah tidak bisa menutupi rasa kagumnya begitu berkeliling kota pusat Kerajaan Pasai. Ia begitu takjub melihat sebuah kota besar yang sangat elok dengan dikelilingi dinding yang megah.

Ibnu Batutah juga mencatat bahwa ia harus berjalan sekitar empat mil dengan mengendarai kuda dari pelabuhan yang disebut Sahra untuk sampai ke pusat kota. Pusat pemerintahan kota itu cukup besar dan indah serta dilengkapi dengan menaramenara yang terbuat dari kayu-kayu yang kokoh. Di pusat kota ini, tulis Ibnu Batutah, terdapat tempat tinggal para penguasa dan bangsawan kerajaan. Bangunan yang terpenting ialah Istana Sultan dan masjid.

Masih menurut catatan Ibnu Battutah, di bawah kepemimpinan Muhammad Malikul Zahir, Pasai menjadi kerajaan yang begitu indah, bukan hanya saja karena keindahan dan kesuburan alamnya tetapi juga karena memiliki raja yang sangat rendah hati, mencintai rakyatnya, dan begitu mencintai ilmu pengetahuan.

Seperti yang sudah disinggung diawal, Ibnu Batutah sempat memasukkan nama Sultan Muhammad Malikul Zahir sebagai salah satu dari tujuh raja di dunia yang memiliki kelebihan luar biasa. Ketujuh raja yang memiliki kemampuan luar biasa itu menurut Ibnu Batutah adalah: Sultan Muhammad Malikul Zahir (Raja Melayu) yang dinilainya berilmu pengetahuan luas dan mendalam, Raja Romawi yang sangat pemaaf, Raja Iraq yang berbudi bahasa, Raja Hindustani yang sangat ramah, Raja Yaman yang berakhlak mulia, Raja Turki yang gagah perkasa, dan Raja Turkistan yang bijaksana.

Pergolakan dan Runtuhnya Kerajaan Samudera Pasai

Kejayaan Kerajaan Samudera Pasai mulai mendapat ancaman dari Kerajaan Majapahit pada saat Gadjah Mada diangkat sebagai patih di Kahuripan pada periode 1319-1321 M oleh Raja Majapahit yang kala itu dijabat oleh Jayanegara dan kemudian naik pangkat menjadi Mahapatih pada 1331 ketika Majapahit dipimpin oleh Ratu Tribuana Tunggadewi. Ketika pelantikan Gadjah Mada menjadi Mahapatih Majapahit inilah keluar ucapannya janjinya yang dikenal dengan Sumpah Palapa, yaitu bahwa Gadjah Mada tidak akan menikmati buah palapa sebelum seluruh Nusantara berada di bawah kekuasaan Kerajaan Majapahit.

Mahapatih Gadjah Mada rupanya sedikit terusik mendengar kabar tentang kebesaran Kerajaan Samudera Pasai. Majapahit khawatir akan pesatnya kemajuan Kerajaan Samudera Pasai yang memiliki jalur perdagangan strategis di selat Malaka. Karenanya, kemudian Gadjah Mada mulai mempersiapkan rencana untuk menyerang kerajaan Islam di pulau Sumatera tersebut. Desas-desus tentang akan adanya serangan tentara Majapahit, yang menganut agama Hindu Syiwa, terhadap kerajaan Islam Samudera Pasai santer terdengar di kalangan rakyat di Aceh.

Armada perang Kerajaan Majapahit di bawah komando Mahapatih Gadjah Mada memulai aksinya pada 1350 dengan beberapa tahapan. Serangan pertama Majapahit diarahkan ke perbatasan Perlak tapi mengalami kegagalan karena lokasi itu dikawal ketat oleh tentara Kesultanan Samudera Pasai. Gadjah Mada kemudian mundur ke laut dan mencari tempat lapang di pantai timur yang tidak terjaga. Di Sungai Gajah, Gadjah Mada mendaratkan pasukannya dan mendirikan benteng di atas bukit, yang hingga sekarang dikenal dengan nama Bukit Meutan atau Bukit Gadjah Mada.

Gadjah Mada kemudian menjalankan siasat serangan dua jurusan, yaitu dari jurusan laut dan jurusan darat. Serangan lewat laut dilancarkan ke daerah pesisir di Lhokseumawe dan Jambu Air, sedangkan penyerbuan jalan darat dilakukan lewat Paya Gajah yang terletak di antara daerah Perlak dan Pedawa. Serangan dari darat tersebut ternyata tidak seperti yang telah direncanakan dan mengalami kegagalan karena dihadang oleh tentara Kesultanan Samudera Pasai. Sementara serangan yang dilakukan lewat jalur laut justru bisa mencapai istana.

Penyerangan kerajaan Majapahit atas Samudera Pasai dilataribelakangi oleh faktor politis sekaligus kepentingan ekonomi. Kemajuan perdagangan dengan ramainya bandarbandar yang berada dalam wilayah kerajaan dan kemakmuran rakyat Kerajaaan Samudera Pasai membuat Mahapatih Gadjah Mada berkeinginan untuk merebutnya. Meskipun ekspansi kerajaan Majapahit dalam rangka menguasai wilayah Samudera Pasai telah dilakukan berulangkali tetapi Kesultanan Samudera Pasai masih mampu bertahan, hingga akhirnya perlahan-lahan perlawanan yang diberikan oleh kerajaan Samudera Pasai mulai surut seiring semakin menguatnya pengaruh Majapahit di Selat Malaka.

Runtuhnya kekuatan Kerajaan Pasai sangat berkaitan dengan perkembangan yang terjadi di luar kerajaan Pasai itu sendiri. Munculnya pusat politik dan perdagangan baru di Malaka pada abad ke-15 adalah salah faktor yang menyebabkan Kerajaan Samudera Pasai mengalami kemunduran. Hancur dan hilangnya peranan Pasai dalam jaringan perdagangan antar bangsa bertambah dengan lahirnya suatu pusat kekuasan baru di ujung barat pulau Sumatera yakni Kerajaan Aceh Darussalam pada abad ke-16.

Pasai ditaklukan dan dimasukkan ke dalam wilayah Kekuasaan Kerajaan Aceh Darussalam oleh Sultan Ali Mughayat Syah dan Lonceng Cakra Donya, hadiah dari Raja Cina untuk Kerajaan Islam Samudera Pasai, dipindahkan ke Aceh Darussalam (sekarang Banda Aceh). Hingga menjelang abad ke-16, Kerajaan Samudera Pasai masih dapat mempertahankan peranannya sebagai bandar yang mempunyai kegiatan perdagangan dengan luar negeri. Para ahli sejarah yang menumpahkan minatnya pada perkembangan ekonomi mencatat bahwa Kerajaan Samudera Pasai pernah menempati kedudukan sebagai sentrum kegiatan dagang internasional di nusantara semenjak peranan Kedah berhasil dipatahkan.

Namun, kemudian peranan Kerajaan Samudera Pasai yang sebelumnya sangat penting dalam arus perdagangan di kawasan Asia Tenggara dan dunia mengalami kemerosotan dengan munculnya bandar perdagangan Malaka di Semenanjung Melayu. Bandar Malaka segera menjadi primadona dalam bidang perdagangan dan mulai menggeser kedudukan Pasai. Tidak lama setelah Malaka dibangun, kota itu dalam waktu singkat segera dibanjiri perantau-perantau dari Jawa. Akibat kemajuan pesat yang diperoleh Malaka itu, posisi dan peranan Kerajaan Samudera Pasai semakin tersudut, nyaris seluruh kegiatan perniagaannya menjadi kendor dan akhirnya benar-benar patah di tangan Malaka sejak tahun 1450.

Tidak hanya itu, Kesultanan Samudera Pasai semakin lemah ketika di Aceh berdiri satu lagi kerajaan yang mulai merintis menjadi sebuah peradaban yang besar dan maju. Pemerintahan baru tersebut adalah Kerajaan Aceh Darussalam yang didirikan oleh Sultan Ali Mughayat Syah. Kesultanan Aceh Darussalam sendiri dibangun di atas puing-puing kerajaankerajaan yang pernah ada di Aceh pada masa pra Islam, seperti Kerajaan Indra Purba, Kerajaan Indra Purwa, Kerajaan Indra Patra, dan Kerajaan Indrapura. Pada 1524, Kerajaan Aceh Darussalam di bawah pimpinan Sultan Ali Mughayat Syah menyerang Kesultanan Samudera Pasai. Akibatnya, pamor kebesaran Kerajaan Samudera Pasai semakin meredup sebelum akhirnya benar-benar runtuh dan berada di bawah kendali kuasa Kesultanan Aceh Darussalam.

 
Copyright © atlhub.net. Designed by OddThemes